Bagaimana Rasulullah menyambut Idul Fitri

  • 0

Bagaimana Rasulullah menyambut Idul Fitri

Perayaan Idul Fitri memiliki akar sejarah yang kuat dalam peradaban Islam. Tradisi penyambutan hari raya tersebut berkorelasi langsung ataupun tidak langsung dengan sunah yang pernah digariskan oleh Rasulullah SAW.

Rahla Khan dalam How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid? mengungkapkan, perayaan Idul Fitri pertama kali dilangsungkan usai Perang Badar pada tahun kedua Hijriah (624 M). Pada masa Rasul dan generasi sahabat, malam terakhir Ramadhan dihidupkan dengan takbir hingga pagi hari 1 Syawal.

Pada hari itu, Rasul menggunakan pakaian terbaik yang dimiliki. Pemilihanl rute jalan yang berbeda saat hendak dan setelah shalat Idul Fitri juga digunakan sebagai bagian bertatap muka  dengan masyarakat.

Rasulullah juga mendatangi tempat keramaian saat Idul Fitri. Suatu saat ketika Idul Fitri, sekelompok orang Afrika pernah menggelar pertunjukan tombak dan tameng. Aisyah meminta izin kepada Rasul untuk menonton aksi tersebut. Rasulullah pergi ke sana bersama Aisyah.

Para budak juga dibiarkan memaikan alat perkusi sebagai ekspresi kebahagiaan. Meski demikian, Rasul melarang tradisi buruk jahiliyah selama perayaan hari raya, seperti berpesta pora dan mengonsumsi minuman keras.

Emine Gumuus Boke dalam artikelnya Prophet Muhammad and the Celebration of ‘Eid menulis Rasulullah mengajak semua Muslim untuk shalat Id dan mendengarkan nasihat dari khotbah. Rasul juga mengajak Muslim berbahagia pada hari ini dan saling mendoakan.

Meski sehari-hari sering bersama para sahabat, ketika Idul Fitri, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabat. Rasul juga tetap menerima kunjungan dengan jamuan yang baik pada para tamu yang hadir. Tradisi yang sama dipertahankan oleh para khalifah, pengganti Rasulullah.

Era dinasti

Berbagai aktivitas menyambut Idul Fitri, seperti pengumpulan zakat fitrah, shalat Id, takbir, serta silaturahim dan saling berbagi makanan pada Hari Raya Idul Fitri tetap berlanjut pada masa dinasti-dinasti Islam. Bahkan, para sultan menggelar jamuan khusus bagi para menteri dan tetamu utusan yang datang.

Robin S Doak dalam Life During the Islamic Empire menjelaskan, pada masa Dinasti Abbasiyah (750-1258 M), jalan-jalan di Baghdad diramaikan dengan aksi panggung para musikus andal dan pembacaan syair atau puisi saat Idul Fitri. Istana juga menggelar perjamuan makan selama tiga hari dengan porsi yang banyak.


  • 0

Pak Didik, Penjual Empal Gentong Menolak Umroh Gratis

Ditulis oleh Agung Soni, dimuat di Kompasiana : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/22/pak-didik-penjual-empal-gentong-menolak-umroh-gratis-633949.html

Pertengahan Januari 2014 lalu, saat keluar dari pintu masjid Suci Pekambingan, Denpasar, saya dikejutkan oleh sapaan dari seseorang yang sering saya temui berjualan empal gentong di Masjid Agung Sudirman Denpasar. Pria semampai bertubuh kurus itu menyalamiku. Ada raut kegembiraan yang memancar dari wajahnya.

“Assalamu’alaikum Mas Soni”, sapanya. “Wa’alaikumsalam. Pak Didik tho..”, jawabku.

“Mas, kalau mengurus paspor bagaimana caranya ya?”, tanya Pak Didik tiba-tiba.

Saya pun menjelaskan dengan pelan-pelan pada Pak Didik.

“Ini mas, alhamdulillah, saya mau diberangkatkan umroh gratis dari seorang pelanggan yang baik. Saya senang , Mas. Allah mengabulkan doa-doa saya selama ini. Saya minta tiap tahajud agar bisa beribadah di tanah suci. Sekali seumur hidup saja”, cerita Pak Didik.

“Kemarin orangnya datang ke saya sambil makan. Terus gak nyangka kok nawarin saya “mau umroh Pak?”, ya jelas saja saya jawab ya. Dia bilang, ya sudah bapak urus paspor secepatnya nanti berangkat bulan depan. Semua biaya perjalanan dan ongkos biar saya tanggung. Bapak ngurus paspor saja.”, tutur Pak Didik lagi.

“Saya tiap habis jualan, dapat uang selalu saya sisihkan, Mas. Ada kaleng kecil saya kasih tulisan “Buat Haji Umroh”. Tapi entah kenapa, setiap sudah ngumpul banyak selalu saja ada keperluan keluarga yang harus saya keluarkan dari kaleng kecil itu. Yang anak sakit, istri melahirkan, orang tua saya di kampung minta dipinjamkan , pokoknya semua usaha tabungan saya selalu habis. Saya tidak putus asa. terus saya berdoa sambil nabung sedikit demi sedikit. Tetap saja tidak bisa, Mas.”

“Mungkin inilah cara Allah menjawab keinginan saya untuk pergi umroh”, kata Pak Didik haru.

 

1393061721702702357

Pak Didik di pelataran Masjid Agung Sudirman Denpasar (dok.pribadi)

Tentu saja kisah Pak Didik ini begitu membuat saya terdiam. Kagum dan salut kepada beliau. Usaha perjuangan beliau memang keras. Sejak pagi buta, pukul 03 pagi ia sudah ke pasar mencari semua bahan keperluan untuk jualan nanti siang. Dari daging sapi , sayur, dan semua bumbu-bumbu. Setelah semua dipersiapkan, pukul 10 pagi, Pak Didik sudah mulai mendorong gerobak jualannya dari rumahnya di Pekambingan menuju Masjid Agung di jalan Sudirman Denpasar. Pukul 04 sore dagangan Pak Didik sudah habis. Kembali ia mendorong gerobaknya untuk pulang.

Sebulan berselang, sore ini selepas Ashar saya menemui Pak Didik untuk tombo kangen dengan empal gentong yang dijualnya. Rasanya enak dan maknyus , kata orang. Dengan harga terjangkau dan kebersihan serta halalnya makanan, saya selalu menjadi pelanggan setia empal gentong Pak Didik. Oh iya, kalau belum ada yang tahu apa itu empal gentong, sedikit akan saya jelaskan.

Makanan ini mirip dengan gulai (gule) dan dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong (periuk tanah liat). Daging yang digunakan adalah usus, babat dan daging sapi. Selain menggunakan kayu bakar dan gentong, makanan ini disajikan menggunakan kucai dan sambal berupa cabai kering giling. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau juga lontong. lontong menurut orang cirebon hanyalah beras yang dimasukan kedalam daun pisang yang sudah dibentuk silinder, tidak ada campuran lainnya.

Itu sekilas saja tentang empal gentong. Bikin kepengin ya?… hehehe…maaf maaf.

Kita kembali kepada kisah Pak Didik ya. Pak Didik pun menjabat tangan saya saat bertemu sore ini.

“Mas, saya tidak jadi berangkat Umroh..”, jelas Pak Didik datar.

“Lho, ada apa Pak?”, tanyaku.

“Saya tidak mau berangkat ibadah ke tanah suci dari uang orang itu. Banyak orang menceritakan kepada saya. Kalau 1 orang, mungkin saya masih kurang percaya. Ini ada 5 orang , ceritanya sama semua. Orang yang mau memberangkatkan saya ternyata seorang rentenir , Mas. Dia kerja sama orang kaya yang senang memeras orang dengan meminjamkan uang. Bunganya besar. Nanti kalau yang meminjam tidak bisa bayar, setiap hari bunga makin bertambah. Bunga berbunga. Saya tidak mau celaka di tanah suci, Mas”, cerita Pak Didik.

“Paspor padahal sudah jadi. Istri sudah senang. Orang tua saya juga sudah senang. Tapi apa boleh buat. Percuma kalau saya berangkat dari uang boleh haram,” tutur Pak Didik.

Hati saya pun seperti ikut bersedih. Ternyata orang jujur dan punya idealisme bukan milik para pejabat. Tapi orang sederhana dan pas-pasan hidupnya.

Sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi.

1. Orang sibuk memperkaya diri dengan cara yang tidak tentu, mau halal mau haram pokoknya kaya. Bahkan uang haram pun dipakai untuk ibadah umroh/haji. Sedangkan Pak Didik memilih keselamatan dirinya dari pertanyaan serta pertanggungjawabannya kepada Tuhan. Pak Didik tidak mau dijadikan “wadah laundry” dari kejahatan dan pemerasan orang lain. Ia masih punya hati nurani

2. Memang Ibadah Haji/Umroh harus dari uang halal. Kalau sekarang banyak orang ibadah umroh dan haji dari uang tidak halal, maka patutlah malu dan segan kepada orang-orang kecil semacam Pak Didik yang tetap bertahan lebih baik bersih daripada berangkat tapi kotor.

3. Kejujuran dan Mempertahankan prinsip itu barang langka. Tidak setiap orang memilikinya. Apakah kita seperti Pak Didik yang memilih jujur? atau tetap memilih berangkat umroh , tidak perduli sumber uang berasal dari mana?

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi saya dan banyak orang.

Salam Idealisme

dan Bersihnya Ibadah dari Kehinaan Perbuatan Jahat


  • 0

Tukang gorengan naik haji

Setelah ada sinetron tukang bubur naik haji,redaksi mendapatkan sebuah cerita tentang tukang gorengan naik haji, kemungkinan cerita ini fiktif, namun bisa menginspirasi kita berbuat kebaikan

Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal.

Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahnya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; usahanya tetap begitu2 saja.

Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya, “Ada gorengan buntut singkong, Pak?”

Si tukang gorengan lantas menjawab, “Nggak ada, Mas.”

“Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak. Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak,” ujar pria muda itu.

Tukang gorengan terperangah. “Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong.. Kenapa kamu masih ingat saya?”

“Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya. Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia,” lanjut pria itu.

Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar!

Subhanallah….

Selalu bersyukur & berbuat baik. Sekecil apa pun, asal ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan kebahagiaan dan keberkahan. Salah satunya dengan SHARE/BAGIKAN catatan ini, semoga menjadi amal kebaikan kita…

Salam dari Saibah, Biro Umroh dan Haji Khusus


Pencarian

Artikel Terbaru

Umroh Sejarah 2016 2017

Umroh 
Sejarah 2016 2017

Umroh Arbain 16 Hari

Umroh Arbain

Umroh Dauroh Quran 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Jadwal Umroh 2016-2017

Umroh 
Semarang 2015-2016