Jika Ibadah dan I’tikaf selama 10 hari terakhir, Tidak Perlu Mencari Tanda Malam Lailatul Qadar

  • 0

Jika Ibadah dan I’tikaf selama 10 hari terakhir, Tidak Perlu Mencari Tanda Malam Lailatul Qadar

sumber : Artikel Rumaysho.Com

Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada.

Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu.

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,

وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي

“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260)

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu.

Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih)

Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan.

Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal


  • 0

Hukum I’tiqaf

I’tikaf telah disepakati umat Islam sebagai ibadah dan cara yang paling utama untuk ber-taqqarub kepada Allah SWT.

Dalil disyariatkannya i’tikaf  adalah firman Allah SWT: ‘’… Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, i’tikaf, dan yang sujud.’’ (QS Al-Baqarah [2]: 125)

Dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 187, Allah SWT Berfirman, ‘’… Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu (istri), sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.’’

Para ulama membagi hukum i’tikaf menjadi dua jenis, yakni wajib dan sunah. Namun, Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam Fadhilah Ramadhan, membagi hukum i’tikaf menjadi tiga jenis, yakni i’tikaf wajib, i’tikaf sunah, dan ’tikaf nafil.

a. I’tikaf Wajib. Menurut Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, i’tikaf wajib adalah i’tikaf yang diwajibkan oleh seseorang pada dirinya sendiri. Nazar merupakan ikrar yang harus ditunaikan. Misalnya, seseorang mengatakan, ‘’Bila Allah SWT menyembuhkan sakitku, maka aku akan beri’tikaf sehari.’’ Atau ada yang bernazar, ‘’Aku bernazar akan beritikaf sebulan.’’ Dalam keadaaan tersebut, maka hukum i’tikaf menjadi wajib.

Jadi, menurut Al-Kubaisi, i’tikaf hukumnya menjadi wajib bila disertai dengan nazar.  I’tikaf wajib didasari oleh sebuah hadis Nabi SAW.  Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Umar bertanya kepada Nabi SAW. (dalam satu riwayat: dari Ibnu Umar dari Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah! Pada zaman jahiliah dulu, saya bernazar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Beliau bersabda, “Penuhilah nazarmu.” Lalu Umar beri’tikaf semalam. (HR Bukhari).

Pada dasarnya, menepati janji atau nazar hukumnya memang wajib berdasarkan firman Allah SWT: ‘’Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling  rumah tua itu (Baitullah).’’ (QS Al Hajj: 29).

Aisyah RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda, ‘’Barang siapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaklah ia penuhi nazarnya; dan barang siapa bernazar untuk melakukan kemaksiatan terhadap Allah, maka hendaklah jangan ia lakukan perbuatan maksiat itu.’’ (HR Bukhari, An-Nasa’i).

b. I’tikaf Sunah. Seperti dicontohkan Rasulullah SAW, i’tikaf sunah dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Menurut Al-Kubaisi, sejak hijrah dari Makkah ke Madinah, Nabi SAW secara rutin beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, hingga akhir hayatnya. Hal itu sesuai dengan hadis Nabi SAW:

Hadis riwayat Ibnu Umar  RA: ‘’Bahwa Nabi SAW selalu i’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.2002).

Hadis riwayat Aisyah RA, ia berkata: ‘’Adalah Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau menghidupkan malam (untuk beribadah), membangunkan istri-istrinya, bersungguh-sungguh (dalam ibadah) dan menjauhi istri. (Shahih Muslim No.2008)

Hadis riwayat Aisyah  RA, ia berkata:  ‘’Adalah Rasulullah SAW, beliau bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tidak seperti pada hari lainnya’’. (Shahih Muslim No.2009)

Adapun dalil yang membuktikan bahwa Rasulullah SAW selalu I’tikaf pada bulan Ramadhan adalah hadis berikut: Aisyah RA berkata, “Nabi beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari (dalam satu riwayat: setiap 2/259) bulan Ramadhan. Maka, saya buatkan untuk beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dalam tenda itu.

(Apakah Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf? Lalu Nabi memberinya izin, lantas dia membuat kubah di dalamnya. Maka, Hafshah mendengarnya). Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah untuk membuat sebuah tenda pula, maka Aisyah mengizinkannya. Kemudian Hafshah membuat tenda (dalam satu riwayat: kubah).

Ketika Zainab binti Jahsy melihat tenda itu, maka ia membuat tenda untuk dirinya. Ketika hari telah subuh, Nabi melihat tenda-tenda itu (dalam satu riwayat: melihat empat buah kubah). Lalu, Nabi bertanya, ‘Tenda-tenda apa ini?’ Maka, diberitahukan orang kepada beliau (mengenai informasi tentang mereka). Lalu, Nabi bersabda,
‘Apakah yang mendorong mereka berbuat begini? Bagaimanakah sebaiknya menurut pikiran kamu mengenai mereka? (Aku tidak melakukan i’tikaf sekarang 2/260).’ Lalu, beliau menghentikan i’tikafnya dalam bulan itu. Kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Syawal.” (HR Bukhari).

c. I’tikaf Nafil.  Menurut Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, i’tikaf nafil adalah i’tikaf tanpa batasan waktu dan hari. Menurut dia, kapan saja seorang berniat i’tikaf, ia dapat melakukannya.

sumber : Republika.co.id


  • 0

Proyek Pembangunan Tanah Suci 2012

Tujuh mega proyek Pemerintah Arab Saudi untuk menyambut jamaah haji di tahun 2012 nanti siap digelar.

Mega proyek senilai 6.1 miliar riyal saudi (Rp 2,4 triliun dijadwalkan harus selesai sebelum musim haji yang jatuh pada bulan Oktober 2012 nanti.

Kepala Bidang Proyek Pembangunan Tempat Suci Pemerintah Arab Saudi, Habib Zain Al-Abdeen, mengatakan selama tiga tahun ke depan, 36 ribu WC baru akan dibangun.

“Dua tahun setelah ini, 62 ribu toilet baru akan dibangun di Mina. Begitu juga dengan lokasi di Arafah dan Muzdalifah. Hal itu untuk menutupi fasilitas haji yang saat ini dirasa masih kurang,” jelasnya, Rabu (24/4).

Al-Abdeen juga membocorkan sedikit perkembangan terbaru proyeknya. Ia mengatakan bahwa lantai tiga fasilitas Jamarat nanti akan terhubung langsung ke Al-Muaisim, yaitu daerah di dekat Mina.

Sementara di lantai dua akan terhubung langsung ke Distrik Aziziyah di Makkah. “Tempat penyembelihan sapi dan unta di Mina juga akan bergeser ke Al-Muaisim yang akan langsung terhubung ke jalan Al-Sharaie di Makkah,” kata Abdeen.

Selain itu, ada juga proyek untuk memfasilitasi kedatangan jamaah haji dari stasiun kereta di tempat suci.

Sumber: Arab News


  • 0

Letak Geografis Kota Mekkah

Kota Makkah adalah kota tersibuk didunia yang setiap tahunnya menerima jutaan jamaah Haji, dan setiap bulannya menerima jamaah umrah, terletak di sebelah barat jazirah Arab dan Najed, kota ini (dimasukkan) dalam wilayah Tuhamah, sebelah utaranya terdapat Kota Madinah Al-Munawarah. Sedangkan sebelah timurnya Kota Najed dan Riyadh, sebelah Yaman.

Dari sebelah barat Kota Jeddah, kota ini berada dalam ketinggian ± 330 m dari permukaan laut. Dan jarak antara Kota Makkah dan Jeddah setelah pembuatan jalan baru sekitar 60 km, sedangkan dengan Madinah kalau melewati jalan hijrah sekitar 445 km.

Makkah terletak antara dua gunung sehingga bangunan yang ada di kota ini kalau dilihat dari jauh tidak akan kelihatan. Dua gunung tersebut adalah Gunung Falaq atau Falah yang terletak di sebelah Makkah dan memanjang ke arah Barat. Gunung Quai Quan yang tingginya hampir sama dengan gunung Hindi, Luk-luk dan Kaddi.

Makkah adalah kota yang sangat strategis yang mana selama kurang lebih 2500 tahun sebelum Masehi merupakan tempat pemberhentian kafilah dari negeri Yaman dan Syam (Suriah) Palestina dan Libanon. Di kota ini terdapat tiga jalan yang menjadikannya bertambah bermakna dan penting yaitu jalan Yaman, jalan Palestina dan jalan Laut Merah.

Luas kota ini mencapai 4800 hektar lebih, dengan jumlah penduduk 600.000 orang lebih. Suhu udara yang ada di Makkah adalah kering dan panas hal ini karena disebabkan gunung-gunung dan tanah yang berbatu telah mengelilingi kota ini.

Sehingga menghalangi angin yang datang dari sebelah utara, dan memantulkan sinar matahari yang menambah panasnya suhu udara. Sedangkan udara sangat panas sekali di bulan Juli, Agustus dan September, dan hujan turun di bulan Januari itu pun tidak deras dan tidak sering.


  • 0

Melipat gandakan Pahala di Mekkah

Diantara keutamaan Makkah ialah dilipatgandakannya pahala atas setiap amal yang dikerjakan di sana. Satu kali shalat di Makkah sama dengan 100.000 kali shalat di luar Makkah.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat sekali di masjidku lebih utama daripada shalat seribu kali di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram, dan shalat sekali di Masjidil Haram lebih utama daripada shalat 100.000 kali di tempat selainnya.”

Jika dihitung, shalat wajib dalam tiga hari tiga malam, atau 15 kali shalat di Makkah, maka sama dengan 1.500.000 kali shalat di tempat lain. Hal itu juga menyamai shalat selama 1.000 tahun.

Jadi, orang yang menetap dan beribadah di Makkah selama tiga hari saja (waktu minimal jamaah haji tinggal di Makkah) maka seolah-olah mereka telah beribadah di tempat lain selama 1.000 tahun.

Bagi anda yang berkesempatan menginjakkan kaki di Kota Makkah, janganlah menyia-nyiakan kesempatan untuk menunaikan shalat di Masjidil Haram. Dalam Masjidil Haram sendiri sering terlihat para pemburu pahala yang menunaikan shalat sunnah sepuas-puasnya. Sebagian mereka beri’tikaf di Masjidil Haram dan tidak pulang ke kotel mereka.

Jika anda tidak berkesempatan umrah ramadhan di tahun 2012 ini, Saibah siap membantu merencanakan umroh ramadhan 2013 anda. Sehingga dengan persiapan yang lebih matang untuk melaksanakan ibadah umrah ramadhan di tahun 2013.


Pencarian

Artikel Terbaru

Umroh Sejarah 2016 2017

Umroh 
Sejarah 2016 2017

Umroh Arbain 16 Hari

Umroh Arbain

Umroh Dauroh Quran 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Jadwal Umroh 2016-2017

Umroh 
Semarang 2015-2016